Senin, 23 April 2007

KELUH KESAH JIWA BERSAMA TUHANNYA

Huhh….malam raksasa di bilik angin sepi kesunyian, langit tetap hitam dan aku membangunkan kisah lama tentang memori cinta yang begitu pekat, lembaran kisah tentang romansa purba anak manusia, tentang cumbuan yang begitu erotis dan romansa cinta anak manusia pada umumnya…..
Lalu gema langit hitam menamparku, menyiratkan lukisan penyesalan duniawi…dimana dosa bersemayam di hidupku….
Separuh hidupku aku berjalan dengan bertelanjang bulat, dan aku tanpa malu menebarkan hina yang ku miliki. Seorang anak manusia yang hidup hanya untuk menganyam dosa, itulah aku….


Dan kali ini sebaiknya kukisahkan mengenai keberkahan yang mungkin sedang menungguku namun entah kapan dan dimana. Dan hingga saat ini aku berusaha berpijak di jalan-Nya….
Malam yang menunduk pada Kebesaran sejati….
Siapa yang ku kisahkan mengenai Kebesaran sejati…,
Ia Sang Penguasa malam yang menjinakkan merpati kecil hingga buasnya seekor serigala lapar…
Ia Sang Penguasa dimana rerumputan-pun berbisik kepadaNya,
Ia Sang Penguasa yang menjadi kawan bagi mahluk lara namun setia padaNya,
Ia Sang Penguasa yang menyedekahkan pengampunan bagi mereka yang meminta karna telah menghujat-Nya….
Sang Penyambung kehidupan bagi seorang anak yang menangis di dalam kandungan ibunya
Sang Pengukir langit-langit bumi hingga siang begitu cerah, dan malam begitu pekat…
Dan waktu-ku hanya tersisa sedikit…entah cukup atau tidak untukku mencari tanah datar di bukit tertinggi, agar aku dapat tunduk bersimpuh.

Wahai kesatriaku,
Biru namun pekat…
Beku tanah dingin menembus ulu hati. Jiwa tidak mati namun hampa, seakan hati mengulum jera…tertahan namun terombang ambing.
Malam yang menggila, jerit hati memintal kerinduan dengan air mata ..kerinduanku antara engkau dan DIA. Ini adalah dilema kekasihmu!!! Dilema yang kaupun merasakannya…

23 Mei 2007, dan tak kunjung berakhir...

Kamis, 17 Agustus 2006

"Romansa Kaum Hedonis"

Romansa erotisme…., tidak lagi senandung Daud menjadi pelafalan cinta suci yang menakjubkan antara sang khalifah kepada sang Khalik, melainkan buaian erotis dan sensualitas sang Shakespeare yang menenggelamkan kami pada tendensi dan perasaan keterikatan dengan keindahan objek ragawi sebagaimana magnet yang saling tarik menarik.

Betapa kenikmatan cinta dan erotisme di atas segalanya, ketika kerinduan terhadap sensualitas semakin menguat dan kadar kesenangan serta kepuasan direalisasikan dengan romantisme dan bahasa tubuh yang didasari buai nafsu…
Huhh…betapa keindahan ini tidak lagi tergantikan dalam persepsi indrawi saat ini.
Tatkala kesempurnaan terletak pada sejauh mana kami dapat menikmati kelezatan-kelezatan dan kesenangan-kesenangan material.
Tatkala para wanita mulai mengagungkan pria dan pria mengagungkan dunia atau mungkin sebaliknya…
Betapa tipu daya yang hanya dapat dipersepsi secara indrawi, namun hati kami mati...
Apa arti kesempurnaan pada abad ini….
Ketika segala aset dan sumber-sumber daya hati nurani telah terpuruk, dan kesempurnaan manusia hanya terwujud oleh pandangan yang berpijak pada prinsip-prinsip kesejatian materi sang materialis, hedonis, individualis, hingga scientist.
Tatkala rasionalitas hanya ditopang oleh intelektualitas dan bukan lagi moralitas, ketika kecintaan yang mendasar dan prinsipil adalah kecintaan pada wujud kemolekan dan bukan lagi pada aura Ilahiah Sang Maha Tinggi.
Para kaum hedon mulai menari, di atas muslihat sang empunya dunia kelam, di kelakar remang malam yang membabi buta mereka tertawa....
Tidak lagi jiwa kami yang menjadi aktus penting yang relevan, melainkan keindahan objek ragawi yang membutakan dan menenggelamkan mata hati dalam pesona tipu muslihat...
Kepada Jiwa yang bersengketa... Jeritan di tengah sunyi adalah jerit hati yang menanti celah untuk kembali kepada "Sang Maha Pemberi Nikmat Sejati"... Dan Ia tetap menjagaku ketika sekian kali hujatan terlontar baik dari lisan maupun bahasa tubuhku.
Apakah pengampunan ada di sana....??
Akankah cahaya-Mu dapat kembali bermukim di hati kami para penghianat yang ingin kembali??

-Doc.2006-