Minggu, 22 Januari 2012

ESTETIKAMUFLASE

DINAMIS.., dalam perspektif yang "Absurd"
Para penganut pemikir kebebasan melahirkan para filsuf-filsuf dunia yang mencoba menciptakan berbagai etimologi dari aliran dan sekte-sekte puitrik. Warna warni kehidupan yang kemudian mereka sebut dengan "Dinamika hidup" karena sifat estetis yang terkandung di dalamnya. "Estetis", siapa empu dari kalimat "estetis" tersebut??

Sejenak menilik pada etimologi sebuah kata "estetis",
Dialah Alexander Gottlieb Baumgarten, bapak bagi para penganut nilai Estetika. Mencoba menggambarkan bagaimana penilaian sentimentil rasa ditangkap oleh nilai-nilai sensoris, hingga terciptalah 'seni' sebagai hasil dari pengalaman estetika. Kemudian perjalanan waktu menuntun filosofi tersebut hingga berevolusi mendekati kesempurnaannya. Diawali pada masa romantisme di Perancis, dimana keindahan dianggap memiliki kemampuan dalam menyajikan sebuah keagungan. Kemudian pada masa realisme, dimana keindahan menyajikan sesuatu yang lebih sederhana dalam keadaan apa adanya. Hingga masa dimana keindahan terukur dengan lebih konkrit namun rumit, yakni mengkomposisikan warna, ruang dan kemampuan mengabstraksi benda, tepat dimasa-masa maraknya 'de Stijl'

Namun tetaplah Plato dan Aristoteles sebagai Nabi dari Etimologi ini,
Sementara Plato merumuskan keindahan dari proporsi, keharmonisan dan kesatuan, Aristoteles lebih memilih untuk merumuskannya dari keindahan yang timbul pada aturan-aturan, kesimetrisan, dan keberadaan.
Bukankah proporsi keindahan seharusnya memenuhi banyak aspek, aspek jasmani dan aspak rohani.
Rohani??? Tidakkah pemahaman 'Rohani'pun semakin implisit di masa ini?? Coba tengok bagaimana wujud sebuah sejarah budaya yang disejajarkan pada wujud wanita bugil baik dalam grafi maupun dalam aksi. Mereka katakan, "Lihat dari nilai seni atau estetisnya..maka ini adalah keindahan."
Ya... Konsep 'the beauty and the ugly';
'the beauty' yang memang diakui banyak pihak memenuhi standar keindahan, dan 'the ugly' yang sama sekali tidak memenuhi standar keindahan dan dinilai buruk namun jika dipandang dari banyak hal ternyata memperlihatkan keindahan.
Apa yang terjadi..? konsep tersebut kemudian bermutasi, bergeser menjadi sebuah pemahaman yang absurd... dimana unsur 'Rohani' telah benar-benar kehilangan kesejatiannya, digantikan dengan unsur "artistik". Tanpa "batasan moral", suatu benda, rasa, dan karya mutlak mendapatkan keabsahannya sebagai hasil pengalaman estetika atau disebut juga dengan "Seni", tak peduli seburuk, sevulgar dan se"amoral" apapun bentuknya.

"Sekte Estetis"..siapakah Tuhan dari agama ini?? Dan siapakah yang menjadi hambanya?? Kamu, dia, mereka..dan tak terkecuali 'saya'. Karna kita adalah target..target dari sebuah penghancuran moral yang terorganisir dengan sangat apik. Berkedok pada nilai-nilai moral yang terbentuk dari pemikir-pemikir bebas yang mencoba mengikis sumber rohani sejati dan menggantinya dengan pola-pola abstrak yang timbul dari persekutuan antara Manusia...entah dengan "siapa".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar