Kamis, 17 Juni 2010

Wahai Kesatria Penakhluk Benteng Khaibar...




Wahai Kesatria penakhluk benteng Khaibar..betapa saat ini kembali kisi-kisi jiwaku merindukan kisah-mu…
Ketika malam ini…tetes hujan membasahi tanah-tanah Rabb-ku, dengan hembus angin jantan yang bergejolak… layaknya gejolak kesatria Haidarah dalam pertempurannya yg sengit...

Maka kembali kujajaki lembaran-lembaran kisah tentang kemuliaan-mu…
Tentang keberanian seorang bani Hasyim dalam meruntuhkan benteng-benteng kemungkaran…dengan panji dakwah yang terpatri dalam dirinya.

Kau-lah sosok yang telah menakhlukkan sisi keangkuhanku sebagai seorang wanita…
Kau-lah sosok yang memiliki cahaya iman di hati dan di kedua mata-mu
yang menjadi inspirasi dari untaian-untaian kata dan doa malam ini...

Tak jarang bulir air mata mengalir…ketika ku hayati kata demi kata dari tiap-tiap kalimat yang menguntai di lembaran kisah mu…
Wahai Amirul Mu’minin…
Betapa aku mengasihi sosok jiwa yang begitu mengagumkan…
Kau sembunyikan kebesaran namamu dibalik pakaian sederhana yang bertambal sulam…, satu pakaian yang tak kau tanggalkan…hingga jahitannya tak lagi mampu melekat.
Bagaimana mungkin seorang Khalifah yang memiliki kejayaan…namun tubuhnya hanya bersandangkan sebuah burdah usang…dan berpangan cukup dengan berlauk-kan cuka, minyak dan seiris roti kering yang jauh dari nikmat, namun tetap kau katakan "inilah Nikmat Rabb-ku", Subhnallah!!!

Wahai Amirul Mu’minin…
Tidak kurasakan cinta yang lebih besar melainkan untuk Rabb dan rasul-ku,
Namun ada pula sebagian cinta yang bertubi-tubi menyambangi hatiku untuk-mu,
Bahkan Jibril pun mencintai-mu, maka tak salah jika akupun memuja-mu sebagai sosok pria yang ku impikan.
Bagaimana tidak cinta ini ku lapangkan pula kepadamu wahai penghibur hati Rasulullah…sedang kaulah kesatria dalam Pertempuran Badar… bersanding bersama Hamzah..tak gentar kau hunuskan pedangmu menahlukkan Quraisy Mekkah..
Pertempuran Khandak dan tajamnya pedang Zulfiqar-pun menjadi saksi atas keberanianmu…dalam menebas Amar bin Abdi Wud, hingga terhempas nyawa dari raganya.
Betapa Allah dan Rasul-Nya mencintaimu…hingga bendera Kemuliaan dan Kehormatan disematkan disisi namamu atas tahluknya keangkuhan benteng Khaibar di kedua tanganmu.

Wahai Haidarah…kaulah perisai bagi Rasulullah.., Kau terjang kebengisan musuh bag seekor singa.
Ayunan pedangmu bag kilat yang menjadi teror bagi para pasukan musuh...
Kau tunjukkan betapa hidup adalah perjuangan dan keberanian…tak gentar walau nyawa mungkin terhempas dari sangkar raga.., mungkin pula bergemul di serpih-serpih debu tanah Mekkah…

to be continue....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar